Senin, 23 Juli 2012

SANDAL PUTIH-Ivana Christin


SANDAL PUTIH
Trisna Astuti, S.Pd nama seorang pengajar Biologi di SMA yang terpencil daerah Purworejo. Beliau bagaikan seorang malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk kami. Beliau memiliki perangai yang baik dan amat menyanyangi kami, anak didiknya. Dengan sepeda onthel model zaman dulu, Ditambah dengan keranjang sepeda modifikasi baru.

##########

‘ Iva ..!! ayo bangun,,, hari ini kamu kan sekolah nak …” teriak ibu dengan wajah marah membangunkan ku di pagi ini.
  aduhhhh aku pusing bu…. Kepala ku berat sekali untuk di angkat “ keluh ku bermalas – malasan di atas kasur empuk ku yang penuh dengan ompol.
kamu ini, alasan saja tiap hari…. Ibu tidak mau buatkan kamu surat izin terus. Ibu malu !!! “ seru ibu dengan nada tinggi dan muka beliau yang  merah seperti tomat yang sudah matang.
ahh.. bu, aku bener- bener sakit “ keluh ku dalam kepuran.
ayo bangun, ibu laporkan Bu Trisna kalau kamu tetap tidak mau berangkat sekolah “ ancam Ibu sambil mengambil Handphone ku.
haaaaaaaaaaaaaahhhh !!! iya, iya bu aku berangkat sekolah jawab Ku dengan muka mengerutu.

Sebenarnya aku malas untuk pergi ke sekolah karena hujan yang terus menguyur sejak tadi malam dan jarak rumah hingga sekolah yang cukup jauh. Apalagi, aku harus berjalan kaki menuju sekolah sungguh sangat menyebalkan sekali. Biasanya hujan- hujan seperti ini murid yang masuk ke sekolah hanya sedikit. Selesai mandi, bau nasi goreng yang sangat sedap menggoda perut ku untuk segera menuju meja makan. D itemani telur dadar dan kerupuk aku mulai melahap nasi goreng yang ada di depan ku sedikit demi sedikit. “ Kenyyyannnng   ...” guman ku sambil memegang perut ku yang penuh terisi nasi goreng yang lezat ala Bu Kasminah.
Ku ambil tas Ransel warna coklat bercorak putih di pinggirannya. Ku pakai sepatu hitam bertali kepunyaan ku. Tak sengaja aku melongok ke arah jendela hujan masih deras mengguyur desa ini, hingga sang Mentari tak mau bangun dari tempat singgahnya. Seperti halnya aku yang malas bangun hari ini, hehhhehe...
Bu Trisna menggayuh onthelnya melewati depan rumah ku. Mengenakan Jas hujan yang terlihat rapat sehingga air hujan tidak dapat menembus baju dinasnya. Kebiasaan Bu Trisna dari dulu apabila berangkat dan pulang sekolah selalu mengenakan andal jepit yang sudah usam dan banyak yang berlubang di sisi-sisinya. Alasanya pasti
“ nanti sepatu ibu cepat rusak kalau dipakai dari rumah, dan lumayan uang yang buat beli sepatu bisa untuk kebutuhan yang lain”. Rumah Bu Trisna yang jaraknya sekitar 10 Km dari sekolah hanya ditempuh menggunakan sepeda. Sepeda yang menurut cerita sejarah bu Trisna berasal dari hadiah Ayah beliau karena lulus dari SMA dengan nilai yang tinggi. Sepeda onthel yang berwarana coklat usam itulah yang menemani karier Bu Trisna selama ini.

Siap Grak, berdoa mulai.... selesai, pada Ibu guru beri salam  kata Ucup, Ketua kelas XI IPA 2.
Selamat pagi anak-anak ....
Kemarin materinya sampai mana, oh ya besok tanggal 3 April kalian ulangan bab reproduksi ya..   kata Bu Trisna dengan senyum anggun yang membuat ku terpesona.
Bu, interuksi bu...” seru Hendi, murid paling nyeleneh di kelas ku.
ciah, interuksi segala. Emang pramuka ...” balas ku dengan nada menyindir dan mengeluarkan lidah mengejek Dia.
Apa sih kamu ikut –ikut aja... Bu, saya mau tanya kenapa sih bab reproduksi gak ada prakteknya “ kata Hendi sedikit menahan tawa.
Hahahahahahahaahhahaha... “ teriak murid 1 klelas menertawakan pertanyaan Hendi yang sangat memalukan.
heh, gor kamu ki. Kalau tanya itu dipikir dulu asal tanya aja. Emang kamu mau praktek sama siapa ? sama anjing ku ajah tuh ... hahhaha “ teriak ku  tak bisa menahan ketawa ku.
asemmm  kamu ya, dasar pesekkkk.. masak orang suruh sama anjing. Oon amat kamu.. “ selah Hendi tak mau kalah dengan ku.
hehehe... sudah, sudah tidak usah dibahas. Hendi besok prakteknya 10 tahun lagi dengan istri kamu. Ya sudah kita melanjutkan materinya sekarang buka halaman 67 ...” kata Bu Trisna  yang juga ikut tertawa mendengar pertanyaan Hendi yang tidak masuk akal.
4 pelajaran sudah terlewat giliran jam pulang sudah  mendekati. Rasa bosan dan mengantuk mulai terasa apalagi jam terakhir adalah Sejarah. Haduh, pelajaran ini sangat membosankan bagi ku. Pak guru Sejarah bila berbicara  menerangkan materi suaranya amat sangat lirih bagaikan didongeng disiang hari.

uh, bosan.. mending Facebook-an, ah. “ guman ku dalam hati sambil mencari handphone didalam  saku rok ku. Iseng aku membuka dinding Bu Trisna yang menggunakan nama akun “Trisna Astuti”. Wow, ternyata tanggal 3 April besok adalah hari ulang tahun Bu Trisna.
Fen, Fen... liat ini Fen “ bisik ku sambil menarik baju teman ku.
apa, sek..” kata Feni dengan wajah TABLO ( Tampang Bloon )
besok Bu Trisna ulang tahun. Kita kasih suprise yuk... seru itu pasti “ kata ku seperti ada lampu terang diatas kepala.
Iya, iya. Nanti kita bahas bersama dengan ketua kelas ya.. “ jawab Feni.
Sepulang sekolah aku, dan ketua kelas mengumpulkan teman – teman 1 kelas untuk memberikan kejutan bagi Bu Trisna di hari ulang tahunnya besok.
Teman – teman hari ini kita kumpul buat membahas kejuatan untuk Bu Trisna di hari ulang tahun beliau besok. “ kata Ucup menerangkan di depan kelas.
wah, wah seru itu.. tapi kita mau memberikan kado apa ?” kata Feni binggung.
lebih baik kita rundingkan dulu memberikan kejutan apa untuk Bu Trisna besok, kalau kado urusan akhir dah.. “ kata ku.

Ala konfresi meja bundar, kami berdiskusi menentukan kejutan di hari ulang tahun beliau besok. Akhirnya, setelah di timbang-timbang dengan berbagai pihak. Kami memutuskan, untuk berpura-pura tidak ada di dalam ruangan saat Bu Trisna masuk ke dalam kelas.
eh, kado untuk Bu Trisna apa ni ???” tanya Hendi meninggatkan kami akan kado yang akan diberikan.
oh, iya ada yang usul ?” ucap Ucup meminta pendapat kami.
Sepatu saja… “ kata Bayu
jangan lebih baik tas ibu – ibu itu lo, kan keren “ kata Ajeng
bagaimana kalau sandal ????” ucap ku dan tiba-tiba suasana kelas menjadi tenang.
yah betul itu lebih baik kita mengado Bu Trisna sandal saja, kan sandal yang dimiliki Bu Trisna sudah usam dan banyak lubang di sisi-sisinya” jawab Bayu menyetujui pendapat ku.

Keputusan akhir kami akan memberikan sepasang sandal untuk Bu Trisna. Setelah semua selesai untuk didiiskusikan, kami pulang menuju rumah masing-masing. Namun, aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku mendapatkan tugas dari Ucup untuk membelikan sandal untuk Bu Trisna, karena menurut Ucup akulah yang paling dekat dengan Bu Trisna.
Ku langkahkan kaki bersama Feni menuju toko toserba. Setelah sampai di sana, kami justru binggung menentukan pilihan. Feni memilih yang ini, namun aku memilih yang itu. Dua –duanya sama – sama bagus dan cantik bila di kenakan oleh beliau.
Akhirnya, pilihan kami jatuh kepada sandal cross warna putih. Harganya pun tidak terlalu mahal hanya Rp.30.000,00 sangat cocok untuk bentuk tubuh Bu Trisna yang tinggi, ramping dan berkulit putih bersih.
tak sabar aku menunggu hari esok, fen. “ kata ku tersenyum –senyum sendiri seperti orang kesambet setan.
sabar, sek… “ jawab Feni.

#########

            Keesokan harinya aku bangun lebih pagi dari biasanya hingga ibu ku saja menyindirku karena aku bangun lebih awal.
tumben kamu, va bangun jam 5 “ kata ibu menyindir ku.
iyahlah kan rajin masak mau malas terus bu “ kata ku tertawa-tawa mendengar sindiran ibu. Karena semangat ku yang mengebu-ngebu untuk cepat memberikan kado ini kepada bu Trisna. Ku lewati sarapan ku hari ini. Nasi uduk buatan mbok Karmi yang begitu lezatnya ku lewati demi perjuangan untuk bu Trisna.
Sesampainya di sekolah, aku bersama teman-teman mulai sigap menempatkan diri sesuai tugas yang telah dibentuk kemarin. Aku bersama Hendi, Feni, dan Ucup pergi ke luar untuk mengatur strategi.
Ku lihat Bu Trisna berjalan menyusuri lorong sekolah. Langkahnya begitu anggun dengan menggenakan kerudung warna putih bercorak bunga di bawahnya. Segera aku, Hendi, Feni, dan Ucup bersembunyi di kantin dekat kelas ku.

“ pesek, Bu Trisna udah masuk kelas belum? “ kata Hendi memanggilku dengan sebutan Pesek.
“ udah, hen baru ajah tu.. “ jawab ku sambil mengamati kelas dari kejauhan.
Di dalam kelas hanyalah anak-anak yang pendiam dan suka membaca.
“ lo mana Ivana, Hendi, Feni, dan Ucup ?” tanya bu Trisna kepada Bayu.
“ mereka tidak masuk bu, biasa anak-anak malas .” ucap Bayu sedikit menyindirku yang pemalas.
“ lo, kenapa mereka tidak masuk padahalkan hari ini ulangan…” kata Bu Trisna, belum selesai beliau berbicara. Kami berempat masuk dan mengetuk pintu, Bu Trisna yang membukakan pintu kelas untuk kami.
“ SUPRIIISEEEE…… “ teriak murid kelas XI IPA 2.
“ ya ampun… terimakasih anak-anakku” ucap Bu Trisna dengan sedikit berkaca-kaca.

Aku membawa kue ulangtahun dan Ucup membawa kado untuk Bu Trisna. Kami meminta agar Bu Trisna menuip lilin kue ulang tahun dan mengucapkan beberapa permohonan. Setelah acara demi acara dilalui barulah kami mengadakan ulangan. Selesai ulangan Bu Trisna meminta ku untuk pulang sekolah menghadap Bu Trisna di kantor.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Tak lupa aku menuju ruang guru untuk menemui Bu Trisna sesuai kehendak beliau tadi.

“ ibu memanggil saya ada apa, bu ?” ucapa ku kepada Bu Trisna.
“ iya, Ivana… ibu mau ucapakan terimakasih untuk hadiah yang telah kalian berikan untuk ibu. “ kata Bu Trisna dengan senyum merekah.
“ iya, bu sama-sama.. apakah ibu suka dengan kado kami ini?” jawab ku.
“ iya ibu suka, karena sandal mengingatkan untuk melangkah ,terus bergerak disisa umur kita baik dalam kondisi nyaman maupun tidak nyaman, dengan tetap berniat yang baik seperti warnanya yang putih” kata Bu Trisna yang penuh dengan makna.
“ Ivana, ibu mengetahui kamu sering tidak masuk sekolah apabila hujan atau tidak ada kendaraan. Ibu ingin kamu tetap giat dan bersungguh-sungguh bersekolah. Ibu ingin kamu bisa sukses kelak. Semua mungkin kamu anggap tidak berarti sekarang tapi ibu yakin iniakan berarti kelak untuk kehidupan mu. “ kata Bu Trisna memotivasi ku agar lebih baik. Ku peluk Bu Trisna dengan suara tangisan ku secara diam-diam.
“ selamat ulang tahun, bu… terimakasih atas segala kasih sayang ibu untuk saya selama ini. Terimakasih ibu selalu memotivasi dan saya berusaha akan berubah… “ ucapa ku sambil menangis.

“ sebuah usaha jangan dilihat dari berapa besar dan berapa penting usaha itu, tapi setiap usaha akan sangat lebih berharga jika didasari niat yang tulus untuk berbuat kebaikan dan berarti bagi orang lain. “

                                                ####SEKIAN#####





Minggu, 25 Desember 2011

BINGKISAN DARI TEMAN


Kotak nun indah itu
Berpita merah jambu
Lukisan bunga menyelimutinya
Tak bertepi, tak berujung
Ketika ku buka,
Kulirik jendela kaca
Embun menitik disana
Sama seperti batinku di hati
Seonggok kotak itu telah membuatku berlari pergi
Melalap samudera menyambut bukit sahara
Sungguh aku terkesima
Terlena
Akan kesejukkan teman-temanku
Yang menyirna duka rindu ruang perasaku
Aku tersenyum untuk semua
Ketika kusentuh
Memancar senyum
Bingkisan cantik itu
Dari teman-temanku
( Sri Hartatik / XI IPA II )

SETAPAK KAKI


Dikala sinar memuncar
Kujejakkan kaki di bumi pertiwi
Mulai kurasuki gerbang kedamaian
Berharap limpahan kilauan mutiara
Tapi....
Apakah daya setapak kaki
Melihat duri dibalik rumpun teki
Oh, tersembunyi menusuk tajam
Kini....
Saat kugapai butiran cahaya purnama
Dan kurenkum kedalam jiwa
Impian bersama tetesan embun permata
Menyejukkan, jadikan kaki terdiri kukuh
Mengapa saat kucoba tegar rintangan justru menghadang
Selalu kutinju jalan setan setan kecil
Yang mencakar lebar piintu nuraniku
Tapi tak akan kubiarkan terkelebat
Karena....
Bidadari hiasi mahkotaku
Mengiringi dendang lagu setapak kaki
Berjalan menelusuri pernak pernik kehidupan
( Fitri Rahayu / XI IPA II )

BARISAN LUKA


Memang  aku tak dapat menamainya
Sebait puisi tanpa kata
Yang setiap saat tterkelebat dalam pikiranku
Mungkinkah semua ini akan berlalu?
Ah,
Sepak terjang kehidupan dunia
Tak mencuat sedikitpun akan rasa
Aku tersembunyi
Disini
Saat aku mulai mengukur ejaan hati
Tanganku tak pernah sekalipun menggoyang angka
Hanya getaran jiwa dan lelehan air mata
Oh,
Sungguh aku tak kuasa
Aku tak mampu menorehkan senyum
Hanya barisan luka yang mengalir
Mengekang setiap gerak anganku
( Sri Hartatik / XI IPA II )