SANDAL PUTIH
Trisna Astuti, S.Pd nama seorang pengajar Biologi di SMA
yang terpencil daerah Purworejo. Beliau bagaikan seorang malaikat yang dikirim
oleh Tuhan untuk kami. Beliau memiliki perangai yang baik dan amat menyanyangi
kami, anak didiknya. Dengan sepeda onthel model zaman dulu, Ditambah dengan
keranjang sepeda modifikasi baru.
##########
‘ Iva ..!! ayo
bangun,,, hari ini kamu kan
sekolah nak …” teriak ibu dengan wajah marah
membangunkan ku di pagi ini.
“ aduhhhh aku pusing bu…. Kepala ku berat sekali untuk di angkat “
keluh ku bermalas – malasan di atas kasur empuk ku yang penuh dengan ompol.
“ kamu ini, alasan saja tiap
hari…. Ibu tidak mau buatkan kamu surat
izin terus. Ibu malu !!! “ seru ibu dengan nada tinggi dan muka beliau
yang merah seperti tomat yang sudah
matang.
“ ahh.. bu, aku bener- bener
sakit “ keluh ku dalam kepuran.
“ ayo bangun, ibu laporkan Bu
Trisna kalau kamu tetap tidak mau berangkat sekolah “ ancam Ibu sambil
mengambil Handphone ku.
“ haaaaaaaaaaaaaahhhh !!! iya,
iya bu aku berangkat sekolah “
jawab Ku dengan muka mengerutu.
Sebenarnya aku malas untuk pergi ke sekolah karena
hujan yang terus menguyur sejak tadi malam dan jarak rumah hingga sekolah yang
cukup jauh. Apalagi, aku harus berjalan kaki menuju sekolah sungguh sangat
menyebalkan sekali. Biasanya hujan- hujan seperti ini murid yang masuk ke
sekolah hanya sedikit. Selesai mandi, bau nasi goreng yang sangat sedap
menggoda perut ku untuk segera menuju meja makan. D itemani telur dadar dan
kerupuk aku mulai melahap nasi goreng yang ada di depan ku sedikit demi
sedikit. “ Kenyyyannnng ...” guman ku sambil memegang perut ku
yang penuh terisi nasi goreng yang lezat ala Bu Kasminah.
Ku ambil tas Ransel warna coklat bercorak putih di
pinggirannya. Ku pakai sepatu hitam bertali kepunyaan ku. Tak sengaja aku
melongok ke arah jendela hujan masih deras mengguyur desa ini, hingga sang
Mentari tak mau bangun dari tempat singgahnya. Seperti halnya aku yang malas
bangun hari ini, hehhhehe...
Bu Trisna menggayuh onthelnya melewati
depan rumah ku. Mengenakan Jas hujan yang terlihat rapat sehingga air hujan
tidak dapat menembus baju dinasnya. Kebiasaan Bu Trisna dari dulu apabila
berangkat dan pulang sekolah selalu mengenakan andal jepit yang sudah usam dan
banyak yang berlubang di sisi-sisinya. Alasanya pasti
“ nanti sepatu ibu cepat rusak kalau dipakai dari
rumah, dan lumayan uang yang buat beli sepatu bisa untuk kebutuhan yang lain”.
Rumah Bu Trisna yang jaraknya sekitar 10 Km dari sekolah hanya ditempuh
menggunakan sepeda. Sepeda yang menurut cerita sejarah bu Trisna berasal dari
hadiah Ayah beliau karena lulus dari SMA dengan nilai yang tinggi. Sepeda
onthel yang berwarana coklat usam itulah yang menemani karier Bu Trisna selama
ini.
“ Siap Grak,
berdoa mulai.... selesai, pada Ibu guru beri salam” kata Ucup, Ketua kelas XI IPA 2.
“ Selamat
pagi anak-anak ....
Kemarin
materinya sampai mana, oh ya besok tanggal 3 April kalian ulangan bab
reproduksi ya.. “ kata Bu Trisna dengan senyum anggun yang
membuat ku terpesona.
“ Bu, interuksi
bu...” seru Hendi, murid paling nyeleneh di kelas ku.
“ ciah,
interuksi segala. Emang pramuka ...” balas ku dengan nada menyindir dan
mengeluarkan lidah mengejek Dia.
“ Apa sih
kamu ikut –ikut aja... Bu, saya mau tanya kenapa sih bab reproduksi gak ada
prakteknya “ kata Hendi sedikit menahan tawa.
“ Hahahahahahahaahhahaha...
“ teriak murid 1 klelas menertawakan pertanyaan Hendi yang sangat
memalukan.
“ heh, gor
kamu ki. Kalau tanya itu dipikir dulu asal tanya aja. Emang kamu mau praktek
sama siapa ? sama anjing ku ajah tuh ... hahhaha “ teriak ku tak bisa menahan ketawa ku.
“ asemmm kamu ya, dasar pesekkkk.. masak orang suruh
sama anjing. Oon amat kamu.. “ selah Hendi tak mau kalah dengan ku.
“ hehehe...
sudah, sudah tidak usah dibahas. Hendi besok prakteknya 10 tahun lagi dengan
istri kamu. Ya sudah kita melanjutkan materinya sekarang buka halaman 67 ...”
kata Bu Trisna yang juga ikut tertawa
mendengar pertanyaan Hendi yang tidak masuk akal.
4 pelajaran sudah terlewat giliran jam pulang
sudah mendekati. Rasa bosan dan
mengantuk mulai terasa apalagi jam terakhir adalah Sejarah. Haduh, pelajaran
ini sangat membosankan bagi ku. Pak guru Sejarah bila berbicara menerangkan materi suaranya amat sangat lirih
bagaikan didongeng disiang hari.
“ uh, bosan..
mending Facebook-an, ah. “ guman ku dalam hati sambil mencari handphone
didalam saku rok ku. Iseng aku membuka
dinding Bu Trisna yang menggunakan nama akun “Trisna Astuti”. Wow, ternyata tanggal 3 April besok adalah hari ulang
tahun Bu Trisna.
“ Fen,
Fen... liat ini Fen “ bisik ku sambil menarik baju teman ku.
“ apa, sek..”
kata Feni dengan wajah TABLO ( Tampang Bloon )
“ besok Bu Trisna
ulang tahun. Kita kasih suprise yuk... seru itu pasti “ kata ku seperti ada lampu terang diatas kepala.
“Iya, iya.
Nanti kita bahas bersama dengan ketua kelas ya.. “ jawab Feni.
Sepulang sekolah aku, dan ketua kelas mengumpulkan teman – teman 1
kelas untuk memberikan kejutan bagi Bu Trisna di hari ulang tahunnya besok.
“ Teman – teman hari ini kita
kumpul buat membahas kejuatan untuk Bu Trisna di hari ulang tahun beliau besok.
“ kata Ucup menerangkan di depan kelas.
“ wah, wah seru itu.. tapi
kita mau memberikan kado apa ?” kata Feni binggung.
“ lebih baik kita rundingkan
dulu memberikan kejutan apa untuk Bu Trisna besok, kalau kado urusan akhir
dah.. “ kata ku.
Ala konfresi meja bundar, kami berdiskusi menentukan kejutan di hari
ulang tahun beliau besok. Akhirnya, setelah di timbang-timbang dengan berbagai
pihak. Kami memutuskan, untuk berpura-pura tidak ada di dalam ruangan saat Bu
Trisna masuk ke dalam kelas.
“ eh, kado untuk Bu Trisna apa
ni ???” tanya Hendi meninggatkan kami akan kado yang akan diberikan.
“ oh, iya ada yang usul ?”
ucap Ucup meminta pendapat kami.
“ Sepatu saja… “ kata Bayu
“ jangan lebih baik tas ibu –
ibu itu lo, kan
keren “ kata Ajeng
“ bagaimana kalau sandal ????”
ucap ku dan tiba-tiba suasana kelas menjadi tenang.
“ yah betul itu lebih baik
kita mengado Bu Trisna sandal saja, kan
sandal yang dimiliki Bu Trisna sudah usam dan banyak lubang di sisi-sisinya”
jawab Bayu menyetujui pendapat ku.
Keputusan akhir kami akan memberikan sepasang sandal untuk Bu
Trisna. Setelah semua selesai untuk didiiskusikan, kami pulang menuju rumah
masing-masing. Namun, aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku mendapatkan tugas
dari Ucup untuk membelikan sandal untuk Bu Trisna, karena menurut Ucup akulah
yang paling dekat dengan Bu Trisna.
Ku langkahkan kaki bersama Feni menuju toko toserba. Setelah sampai
di sana, kami
justru binggung menentukan pilihan. Feni memilih yang ini, namun aku memilih
yang itu. Dua –duanya sama – sama bagus dan cantik bila di kenakan oleh beliau.
Akhirnya, pilihan kami jatuh kepada sandal cross warna putih.
Harganya pun tidak terlalu mahal hanya Rp.30.000,00 sangat cocok untuk bentuk
tubuh Bu Trisna yang tinggi, ramping dan berkulit putih bersih.
“ tak sabar aku menunggu hari
esok, fen. “ kata ku tersenyum –senyum sendiri seperti orang kesambet
setan.
“ sabar, sek… “ jawab Feni.
#########
Keesokan harinya
aku bangun lebih pagi dari biasanya hingga ibu ku saja menyindirku karena aku
bangun lebih awal.
“ tumben kamu, va bangun jam 5
“ kata ibu menyindir ku.
“ iyahlah kan rajin masak mau malas terus bu “
kata ku tertawa-tawa mendengar sindiran ibu. Karena semangat ku yang
mengebu-ngebu untuk cepat memberikan kado ini kepada bu Trisna. Ku lewati
sarapan ku hari ini. Nasi uduk buatan mbok Karmi yang begitu lezatnya ku lewati
demi perjuangan untuk bu Trisna.
Sesampainya di sekolah, aku bersama teman-teman mulai sigap
menempatkan diri sesuai tugas yang telah dibentuk kemarin. Aku bersama Hendi,
Feni, dan Ucup pergi ke luar untuk mengatur strategi.
Ku lihat Bu Trisna berjalan menyusuri lorong sekolah. Langkahnya
begitu anggun dengan menggenakan kerudung warna putih bercorak bunga di
bawahnya. Segera aku, Hendi, Feni, dan Ucup bersembunyi di kantin dekat kelas
ku.
“ pesek, Bu Trisna udah
masuk kelas belum? “ kata Hendi memanggilku dengan
sebutan Pesek.
“ udah, hen baru ajah tu..
“ jawab ku sambil mengamati kelas dari kejauhan.
Di dalam kelas hanyalah anak-anak yang pendiam dan suka membaca.
“ lo mana Ivana, Hendi,
Feni, dan Ucup ?” tanya bu Trisna kepada Bayu.
“ mereka tidak masuk bu,
biasa anak-anak malas .” ucap Bayu sedikit
menyindirku yang pemalas.
“ lo, kenapa mereka tidak
masuk padahalkan hari ini ulangan…” kata Bu Trisna,
belum selesai beliau berbicara. Kami berempat masuk dan mengetuk pintu, Bu
Trisna yang membukakan pintu kelas untuk kami.
“ SUPRIIISEEEE…… “ teriak murid kelas XI IPA 2.
“ ya ampun… terimakasih
anak-anakku” ucap Bu Trisna dengan sedikit
berkaca-kaca.
Aku membawa kue ulangtahun dan Ucup membawa kado untuk Bu Trisna.
Kami meminta agar Bu Trisna menuip lilin kue ulang tahun dan mengucapkan
beberapa permohonan. Setelah acara demi acara dilalui barulah kami mengadakan
ulangan. Selesai ulangan Bu Trisna meminta ku untuk pulang sekolah menghadap Bu
Trisna di kantor.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Tak lupa aku menuju ruang guru untuk
menemui Bu Trisna sesuai kehendak beliau tadi.
“ ibu memanggil saya ada
apa, bu ?” ucapa ku kepada Bu Trisna.
“ iya, Ivana… ibu mau
ucapakan terimakasih untuk hadiah yang telah kalian berikan untuk ibu. “ kata Bu Trisna dengan senyum merekah.
“ iya, bu sama-sama..
apakah ibu suka dengan kado kami ini?” jawab ku.
“ iya ibu suka, karena sandal mengingatkan untuk melangkah ,terus bergerak disisa
umur kita baik dalam kondisi nyaman maupun tidak nyaman, dengan tetap berniat
yang baik seperti warnanya yang putih” kata Bu Trisna yang penuh dengan makna.
“
Ivana, ibu mengetahui kamu sering tidak masuk sekolah apabila hujan atau tidak
ada kendaraan. Ibu ingin kamu tetap giat dan bersungguh-sungguh bersekolah. Ibu
ingin kamu bisa sukses kelak. Semua mungkin kamu anggap tidak berarti sekarang
tapi ibu yakin iniakan berarti kelak untuk kehidupan mu. “ kata Bu Trisna memotivasi ku agar lebih baik. Ku peluk Bu Trisna
dengan suara tangisan ku secara diam-diam.
“
selamat ulang tahun, bu… terimakasih atas segala kasih sayang ibu untuk saya
selama ini. Terimakasih ibu selalu memotivasi dan saya berusaha akan berubah… “ ucapa ku sambil menangis.
“
sebuah usaha jangan dilihat dari berapa besar dan berapa penting usaha itu,
tapi setiap usaha akan sangat lebih berharga jika didasari niat yang tulus
untuk berbuat kebaikan dan berarti bagi orang lain. “
####SEKIAN#####
Tidak ada komentar:
Posting Komentar